Powered By Blogger

Senin, 10 Oktober 2011

Kisah Dua Bersaudara


Ada seorang Sulung. Dia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak umur 12 tahun. Ada pula Bungsu, adiknya Sulung, yang baru genap usia 12 bulan saat orang tuanya meninggal. Sulung mau tidak mau menggantikan posisi kedua orang tuanya untuk menjadi kepala keluarga.

Rezeki demi rezeki ia cari, sehingga Sulung mampu menyekolahkan adiknya hingga sarjana. Adiknya lalu sukses besar sebagai petani kaya raya.


Suatu ketika Bungsu menikah. Lalu ia dikaruniai lima orang anak. Sementara Sulung tidak sempat menikah dan hanya hidup sendiri. Bungsu sangat hormat kepada Sang Kakak karena telah berjasa dalam hidupnya, berjuang membiayai dan memenuhi kebutuhannya. Suatu saat dia terpikir tentang kakaknya.

“Aku ingin memberikan dua karung padi dari lumbungku ini kepada kakakku. Kasihan, dia… hidup sendiri. Ketika aku sakit, aku masih punya isteri dan lima anakku yang akan merawatku. Sedangkan kakakku, tidak sepertiku. Kiranya dua karung padi ini dapat menjadi cadangan makanannya di kala kekurangan,” kata Bungsu dalam hati.


Maka Bungsu dengan diam-diam memberikan dua karung beras ke dalam lumbung padi Sulung.
Ternyata, Sulung juga melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama.
“Aku ingin memberikan dua karung padi dari lumbungku ini kepada adikku. Dua karung padi ini mungkin bisa mengurangi bebannya. Kasihan, dia… tanggungannya banyak. Satu isteri dan lima orang anak. Sedangkan aku, karena sendiri, masih lebih dari cukup,” kata Sulung dalam hati.
Maka Sulung juga dengan diam-diam memberikan dua karung padi itu ke dalam lumbung padi Bungsu.


Keesokan harinya mereka terkejut mendapati jumlah karung dalam lumbung padi mereka tetap sama. 
 “Bukankah kemarin aku mengirimkan dua karung padiku kepada adikku?” kata Sulung.

Begitu juga dengan Bungsu. “Bukankah kemarin aku mengirimkan dua karung padiku kepada kakakku?”
Hal ini terjadi seterusnya berkali-kali sampai pada suatu ketika Bungsu terlambat mengantarkan dua karung padi ke lumbung padi Sulung. Sulung yang kala itu diam-diam membuka lumbung padi Bungsu tiba-tiba terkejut dengan kedatangan adiknya yang menepuknya dari belakang dan telah mengeluarkan air mata tanda haru.


Mereka baru sadar ternyata selama ini mereka melakukan hal yang sama satu sama lain.
Mereka berpelukan erat dan lama. Tangisan haru tak kuasa membasahi wajah masing-masing kedua saudara itu. Cinta persaudaraan antara mereka terus bersemai dan tak lekang oleh jaman dan perubahan.


Semoga menginspirasi khususnya bagi kakak dan adik yang sering berantem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar